Aku disini, berdiri di bawah rinai hujan yang lebat. Berteduh pada pohon besar yang menjadi tempat pertama kami. Aku merindukan bias percikan hujan saat bersamanya. Merindukan saat berdiri bersama dengan tangan melingkar memeluk diri sendiri. Tepat disini, dibawah pohon ini. Aku mengingat tentangnya, dan kenangan kami. Kenangan yang akan ku kenang kala disini dan disuasana ini, dalam gelapnya.
"Hey. . ." Sapanya kala itu, persis dengan ciri khas orang kedinginan, menggigil.
"Ya?" ucapku pelan. Dia diam, dan tak menjawab lagi. "Ada apa?" tanyaku ulang.
"Kau. . . Ah tidak." Dia terdengar ragu.
Aku mengulum senyum samar, berharap dia tak melihatnya saat itu. Itu pertemuan ke empat kami kala hujan. Entah takdir atau tidak, saat hujan, kami akan tak sengaja memilih tempat berteduh yang sama, di bawah pohon besar ini, pohon yang diam-diam aku meminta temanku untuk mengukirnya dengan namaku, tanpa namanya. Kenapa? Karena hingga pertemuan ke empat dan sampai pertemuan ke tujuh, aku tak pernah mengetahui namanya.
(Ditempat ini, dimana semua memori kita tersimpan Bahkan kehangatan yang tercipta diujung jariku Semua masih disana, masih ada disana Aromamu, wajahmu Tolong, lihatlah aku.. lihatlah aku.. Aku yang masih merasakanmu, merasakanmu seperti ini Aku mencoba mengingat caramu berbicara, caramu tersenyum Aku yang selalu mencoba mengingat semua tentangmu)
Hingga pada pertemuan ke delapan kami, saat hujan salju berlangsung, aku memberanikan diri bertanya.
"Siapa namamu?" tanyaku pelan.
"Aku. . .?" tanyanya ulang dan ku balas anggukan. Aku dapat membayangkan wajah bingungnya saat itu. "Lee Yoon, dan kau?"
"Shin Han." ucap ku lalu tersenyum.
Sejenak aku dapat merasakan hembusan angin menerbangkan surai ku. Seolah membisikkan lantunan nada kehidupan. Seakan menyampaikan pesan. Pesan darinya
(Disaat hatiku tidak mengijinkan untuk menghapus semua tentangmu Karena aku ingat, hanya namaku yang kau panggil dalam tidurmu)
Pertemuan ke sepuluh kami dibawah rinai hujan. Dia mengatakan yang tak seharusnya dia katakan kepadaku. Rasanya gadis sepertiku sungguh tak pantas untuk mendengarnya. Dia, pria hujanku.
"Aku. . .aku menyukaimu." Gumaman yang samar-samar ku dengar karena bisingnya hujan.
"Aku juga menyukaimu. Kau pria yang baik dan menyenangkan untuk dijadikan teman." Jawabku pura-pura tak mengerti maksudnya. Kala itu aku senang, tapi tak dengan hati kecil ku yang merasa tak pantas.
"Tidak. Bukan seperti teman. Aku menyukai mu, maksudku mungkin mencintaimu. Aku selalu berharap hujan selalu turun membasahi bumi dan pada saat itu, aku menyakini bahwa kau akan datang ke tempat ini sejak pertemuan ke tiga kita." Aku tiba-tiba merasakan perasaan meletup-letup penuh bahagia mendengar penuturan itu. Dia mencintaiku? Yeah, mungkin, seperti jawabannya tadi yang mungkin mencintaiku.
"Aku gadis buta yang tak mengerti cinta, Yoon. Aku bahkan tak tau rupa mu. Tak tahu bagaimana raut wajahmu saat mengatakan hal itu. Bahkan aku tak tahu bagaimana langit sekarang," jawab ku lirih. Itu benar, aku buta, aku tak pernah melihatnya, yang ada hanya gelap dan suara, pun merasa.
Dia menggapai jemariku, menuntunnya menuju ke wajahnya. "Raba Hannie-ssi. Rabalah setiap inci diwajahku, dan gambarkan dalam benakmu bagaimana rupaku. Simpan baik-baik gambaran itu menjadi kenangan." Aku dapat merasakan tanganku berada di mata dan pipinya. Dengan berani dan pelan aku menggerakkan tanganku. Hidung, mata, kening, alis, pipi, bibir dan garis rahangnya. Aku merasakannya, pria hujanku, pria yang tampan dan manis. Kemudian dia menuntun tanganku lagi menuju dadanya, entah kanan atau kiri, namun aku dapat merasakan detakannya. "Hannie-ssi, jantung ini selalu membuatku merasa kacau saat di dekatmu. Jantung ini selalu berdetak sangat cepat saat bersamamu."
(Tapi sekarang kau tak disini, tidak disini Bagaimana aku bisa menajalani hidup tanpamu? Dimana kita seharusnya masih bisa jalan beriringan Dimana seharusnya semua impian dan harapanku masih bisa terwujud Dan disini aku sekarang, berdiri didepan kenangan tanpa dirimu)
Hingga beberapa hari setelahnya, hujan turun lagi dan lagi, namun tak ada lagi ku temukan dia dalam rinai hujan. Suaranya yang bagai desiran angin lembut tak lagi ku dengar. Di mana detakan jantung itu. Apakah jantung itu masih berdetak dengan cepat. Aku merindukannya, pria hujanku.
"Aku merindukanmu, Hannie-ya." Aku mendengarnya lagi. Itu suaranya, suara lembut desiran angin. Benarkah itu dia? "Maaf membuat mu menunggu," dia terdengar menyesal.
"Tidak. Tidak apa, maksudku tak masalah jika aku menunggu asal kau pasti datang," jawabku senang. Oh Tuhan, mataku memanas, aku sangat bahagia. Rasanya aku benar-benar ingin menangis.
Tak ada jawaban lagi setelah itu. Yang terdengar hanya suara bisingnya hujan. Aku mencari. Kemana pria hujanku. Mengapa dia pergi? Pria hujanku kumohon kembali.
FIN

Tidak ada komentar:
Posting Komentar