Sabtu, 20 Mei 2017
Friendzone: Just Friend, Right!!? (Bag. 4)
Kadang ada saat dimana aku tidak suka sendiri, dan kerap kali mencoba mencari kebisingan agar sepi itu tak terlalu menyedihkan. Tapi justru ada saat dimana aku sangat menyukai sepi dan kesunyian tanpa ada gangguan apapun. Sama seperti sekarang, aku disini sendiri membaca buku diperpustakaan dalam damai.
"Shin Han? sapa sesseorang. Ku dongakkan kepalaku dan see!! Pedebah datang. "Boleh ku duduk disini?" ujarnya.
"Tentu saja boleh. Silahkan!" Sesungguhnya aku tidak ingin dia duduk satu meja denganku. Tapikan ini tempat umun, apa hhakku?!!
Awalnya senyap sempat merayap diantara kami, dan aku menikmatinya. Namun, senyap itu pecah.
"Kudengar hubunganmu dengan Lee Yoon sedang tidak baik. Why??!"
Aku menatapnya lamat-lamat. "Aku kira itu bukan urusanmu," sahutku.
"Well, aku hanya mencoba untuk bersikap perduli denganmu. Karena ku pikir kau sedikit menyedihkan."
Menyedihkan? apa dia sedang mencoba untuk mengasihaniku? oh my lord. Aku memilih untuk beranjak pergi, tapi kemudian ku berbalik kearahnya hendak menyampaikan kalimat yang belum tersampaikan. "Jangan mencoba untuk penasaran, dude. Dan jangan bersikap atas nama peduli. Karena antara perhatian dan penasaran itu beda tipis. Dan hubungan kami hanya sahabat, bahkan jika kami bertengkar, itu bukanlah hal yang harus kami umbar-umbarkan, bukan?!" Shit.
FIN
Selasa, 09 Mei 2017
Friendzone: Its Hurts (Bag.3)
"Han..." Dari seberang telepon suara Lee Yoon terdengar bergetar. Shin Han rasa itu karena kedinginan, padahal lebih dari itu.
Setengah ragu Han menjawab, "ya? apa kau baik-baik saja?" Terkutuklah rasa perduli dan khawatir yang tak pernah bisa disembunyikan gadis itu untuk Yoon. Han yang terlalu jujur, sekaligus Han yang malang.
"Aku di halaman rumahmu." Sesekali gemerutuk gigi yang menggigil terdengar.
Han menengok ke jendela. Kemudian dia berlari mencari payung, lalu keluar. "Hujan salju sedang turun, kau sedang apa?" omel gadis itu dengan suara keras sambil berjalan mendekati Yoon yang berdiri.
Yoon terlihat kacau. Rambutnya berantakan, mata berair, hidung memerah, dan sudut bibir serta kulit rahangnya sobek---dia berkelahi. "Kau...?"
"Dia...mengakhiri hubungan kami dan lebih memilih mantan kekasihnya daripada aku. Dia..."
Untuk pertama kalinya, Han melihat Yoon menangisi seorang gadis. Hal yang wajar jika dia sangat mencintai gadis itu.
Han tertegun diam, 'aku bukan tempat pelarian, Yoonnie-ya."
Fin..
Rabu, 03 Mei 2017
Hopeless: Gone (Bag.1)
(Dan disini aku berdiri bersama setumpuk kenangan, Aku merindukanmu)
Aku disini, berdiri di bawah rinai hujan yang lebat. Berteduh pada pohon besar yang menjadi tempat pertama kami. Aku merindukan bias percikan hujan saat bersamanya. Merindukan saat berdiri bersama dengan tangan melingkar memeluk diri sendiri. Tepat disini, dibawah pohon ini. Aku mengingat tentangnya, dan kenangan kami. Kenangan yang akan ku kenang kala disini dan disuasana ini, dalam gelapnya.
"Hey. . ." Sapanya kala itu, persis dengan ciri khas orang kedinginan, menggigil.
"Ya?" ucapku pelan. Dia diam, dan tak menjawab lagi. "Ada apa?" tanyaku ulang.
"Kau. . . Ah tidak." Dia terdengar ragu.
Aku mengulum senyum samar, berharap dia tak melihatnya saat itu. Itu pertemuan ke empat kami kala hujan. Entah takdir atau tidak, saat hujan, kami akan tak sengaja memilih tempat berteduh yang sama, di bawah pohon besar ini, pohon yang diam-diam aku meminta temanku untuk mengukirnya dengan namaku, tanpa namanya. Kenapa? Karena hingga pertemuan ke empat dan sampai pertemuan ke tujuh, aku tak pernah mengetahui namanya.
(Ditempat ini, dimana semua memori kita tersimpan Bahkan kehangatan yang tercipta diujung jariku Semua masih disana, masih ada disana Aromamu, wajahmu Tolong, lihatlah aku.. lihatlah aku.. Aku yang masih merasakanmu, merasakanmu seperti ini Aku mencoba mengingat caramu berbicara, caramu tersenyum Aku yang selalu mencoba mengingat semua tentangmu)
Hingga pada pertemuan ke delapan kami, saat hujan salju berlangsung, aku memberanikan diri bertanya.
"Siapa namamu?" tanyaku pelan.
"Aku. . .?" tanyanya ulang dan ku balas anggukan. Aku dapat membayangkan wajah bingungnya saat itu. "Lee Yoon, dan kau?"
"Shin Han." ucap ku lalu tersenyum.
Sejenak aku dapat merasakan hembusan angin menerbangkan surai ku. Seolah membisikkan lantunan nada kehidupan. Seakan menyampaikan pesan. Pesan darinya dari pria itu pria hujan ku.
(Disaat hatiku tidak mengijinkan untuk menghapus semua tentangmu Karena aku ingat, hanya namaku yang kau panggil dalam tidurmu)
Pertemuan ke sepuluh kami dibawah rinai hujan. Dia mengatakan yang tak seharusnya dia katakan kepadaku. Rasanya gadis sepertiku sungguh tak pantas untuk mendengarnya. Dia, pria hujanku.
"Aku. . .aku menyukaimu." Gumaman yang samar-samar ku dengar karena bisingnya hujan.
"Aku juga menyukaimu. Kau pria yang baik dan menyenangkan untuk dijadikan teman." Jawabku pura-pura tak mengerti maksudnya. Kala itu aku senang, tapi tak dengan hati kecil ku yang merasa tak pantas.
"Tidak. Bukan seperti teman. Aku menyukai mu, maksudku mungkin mencintaimu. Aku selalu berharap hujan selalu turun membasahi bumi dan pada saat itu, aku menyakini bahwa kau akan datang ke tempat ini sejak pertemuan ke tiga kita." Aku tiba-tiba merasakan perasaan meletup-letup penuh bahagia mendengar penuturan itu. Dia mencintaiku? Yeah, mungkin, seperti jawabannya tadi yang mungkin mencintaiku.
"Aku gadis buta yang tak mengerti cinta, Yoon. Aku bahkan tak tau rupa mu. Tak tahu bagaimana raut wajahmu saat mengatakan hal itu. Bahkan aku tak tahu bagaimana langit sekarang," jawab ku lirih. Itu benar, aku buta, aku tak pernah melihatnya, yang ada hanya gelap dan suara, pun merasa.
Dia menggapai jemariku, menuntunnya menuju ke wajahnya. "Raba Hannie-ssi. Rabalah setiap inci diwajahku, dan gambarkan dalam benakmu bagaimana rupaku. Simpan baik-baik gambaran itu menjadi kenangan." Aku dapat merasakan tanganku berada di mata dan pipinya. Dengan berani dan pelan aku menggerakkan tanganku. Hidung, mata, kening, alis, pipi, bibir dan garis rahangnya. Aku merasakannya, pria hujanku, pria yang tampan dan manis. Kemudian dia menuntun tanganku lagi menuju dadanya, entah kanan atau kiri, namun aku dapat merasakan detakannya. "Hannie-ssi, jantung ini selalu membuatku merasa kacau saat di dekatmu. Jantung ini selalu berdetak sangat cepat saat bersamamu."
(Tapi sekarang kau tak disini, tidak disini Bagaimana aku bisa menajalani hidup tanpamu? Dimana kita seharusnya masih bisa jalan beriringan Dimana seharusnya semua impian dan harapanku masih bisa terwujud Dan disini aku sekarang, berdiri didepan kenangan tanpa dirimu)
Hingga beberapa hari setelahnya, hujan turun lagi dan lagi, namun tak ada lagi ku temukan dia dalam rinai hujan. Suaranya yang bagai desiran angin lembut tak lagi ku dengar. Di mana detakan jantung itu. Apakah jantung itu masih berdetak dengan cepat. Aku merindukannya, pria hujanku.
"Aku merindukanmu, Hannie-ya." Aku mendengarnya lagi. Itu suaranya, suara lembut desiran angin. Benarkah itu dia? "Maaf membuat mu menunggu," dia terdengar menyesal.
"Tidak. Tidak apa, maksudku tak masalah jika aku menunggu asal kau pasti datang," jawabku senang. Oh Tuhan, mataku memanas, aku sangat bahagia. Rasanya aku benar-benar ingin menangis.
Tak ada jawaban lagi setelah itu. Yang terdengar hanya suara bisingnya hujan. Aku mencari. Kemana pria hujanku. Mengapa dia pergi? Pria hujanku kumohon kembali.
FIN
Aku disini, berdiri di bawah rinai hujan yang lebat. Berteduh pada pohon besar yang menjadi tempat pertama kami. Aku merindukan bias percikan hujan saat bersamanya. Merindukan saat berdiri bersama dengan tangan melingkar memeluk diri sendiri. Tepat disini, dibawah pohon ini. Aku mengingat tentangnya, dan kenangan kami. Kenangan yang akan ku kenang kala disini dan disuasana ini, dalam gelapnya.
"Hey. . ." Sapanya kala itu, persis dengan ciri khas orang kedinginan, menggigil.
"Ya?" ucapku pelan. Dia diam, dan tak menjawab lagi. "Ada apa?" tanyaku ulang.
"Kau. . . Ah tidak." Dia terdengar ragu.
Aku mengulum senyum samar, berharap dia tak melihatnya saat itu. Itu pertemuan ke empat kami kala hujan. Entah takdir atau tidak, saat hujan, kami akan tak sengaja memilih tempat berteduh yang sama, di bawah pohon besar ini, pohon yang diam-diam aku meminta temanku untuk mengukirnya dengan namaku, tanpa namanya. Kenapa? Karena hingga pertemuan ke empat dan sampai pertemuan ke tujuh, aku tak pernah mengetahui namanya.
(Ditempat ini, dimana semua memori kita tersimpan Bahkan kehangatan yang tercipta diujung jariku Semua masih disana, masih ada disana Aromamu, wajahmu Tolong, lihatlah aku.. lihatlah aku.. Aku yang masih merasakanmu, merasakanmu seperti ini Aku mencoba mengingat caramu berbicara, caramu tersenyum Aku yang selalu mencoba mengingat semua tentangmu)
Hingga pada pertemuan ke delapan kami, saat hujan salju berlangsung, aku memberanikan diri bertanya.
"Siapa namamu?" tanyaku pelan.
"Aku. . .?" tanyanya ulang dan ku balas anggukan. Aku dapat membayangkan wajah bingungnya saat itu. "Lee Yoon, dan kau?"
"Shin Han." ucap ku lalu tersenyum.
Sejenak aku dapat merasakan hembusan angin menerbangkan surai ku. Seolah membisikkan lantunan nada kehidupan. Seakan menyampaikan pesan. Pesan darinya
(Disaat hatiku tidak mengijinkan untuk menghapus semua tentangmu Karena aku ingat, hanya namaku yang kau panggil dalam tidurmu)
Pertemuan ke sepuluh kami dibawah rinai hujan. Dia mengatakan yang tak seharusnya dia katakan kepadaku. Rasanya gadis sepertiku sungguh tak pantas untuk mendengarnya. Dia, pria hujanku.
"Aku. . .aku menyukaimu." Gumaman yang samar-samar ku dengar karena bisingnya hujan.
"Aku juga menyukaimu. Kau pria yang baik dan menyenangkan untuk dijadikan teman." Jawabku pura-pura tak mengerti maksudnya. Kala itu aku senang, tapi tak dengan hati kecil ku yang merasa tak pantas.
"Tidak. Bukan seperti teman. Aku menyukai mu, maksudku mungkin mencintaimu. Aku selalu berharap hujan selalu turun membasahi bumi dan pada saat itu, aku menyakini bahwa kau akan datang ke tempat ini sejak pertemuan ke tiga kita." Aku tiba-tiba merasakan perasaan meletup-letup penuh bahagia mendengar penuturan itu. Dia mencintaiku? Yeah, mungkin, seperti jawabannya tadi yang mungkin mencintaiku.
"Aku gadis buta yang tak mengerti cinta, Yoon. Aku bahkan tak tau rupa mu. Tak tahu bagaimana raut wajahmu saat mengatakan hal itu. Bahkan aku tak tahu bagaimana langit sekarang," jawab ku lirih. Itu benar, aku buta, aku tak pernah melihatnya, yang ada hanya gelap dan suara, pun merasa.
Dia menggapai jemariku, menuntunnya menuju ke wajahnya. "Raba Hannie-ssi. Rabalah setiap inci diwajahku, dan gambarkan dalam benakmu bagaimana rupaku. Simpan baik-baik gambaran itu menjadi kenangan." Aku dapat merasakan tanganku berada di mata dan pipinya. Dengan berani dan pelan aku menggerakkan tanganku. Hidung, mata, kening, alis, pipi, bibir dan garis rahangnya. Aku merasakannya, pria hujanku, pria yang tampan dan manis. Kemudian dia menuntun tanganku lagi menuju dadanya, entah kanan atau kiri, namun aku dapat merasakan detakannya. "Hannie-ssi, jantung ini selalu membuatku merasa kacau saat di dekatmu. Jantung ini selalu berdetak sangat cepat saat bersamamu."
(Tapi sekarang kau tak disini, tidak disini Bagaimana aku bisa menajalani hidup tanpamu? Dimana kita seharusnya masih bisa jalan beriringan Dimana seharusnya semua impian dan harapanku masih bisa terwujud Dan disini aku sekarang, berdiri didepan kenangan tanpa dirimu)
Hingga beberapa hari setelahnya, hujan turun lagi dan lagi, namun tak ada lagi ku temukan dia dalam rinai hujan. Suaranya yang bagai desiran angin lembut tak lagi ku dengar. Di mana detakan jantung itu. Apakah jantung itu masih berdetak dengan cepat. Aku merindukannya, pria hujanku.
"Aku merindukanmu, Hannie-ya." Aku mendengarnya lagi. Itu suaranya, suara lembut desiran angin. Benarkah itu dia? "Maaf membuat mu menunggu," dia terdengar menyesal.
"Tidak. Tidak apa, maksudku tak masalah jika aku menunggu asal kau pasti datang," jawabku senang. Oh Tuhan, mataku memanas, aku sangat bahagia. Rasanya aku benar-benar ingin menangis.
Tak ada jawaban lagi setelah itu. Yang terdengar hanya suara bisingnya hujan. Aku mencari. Kemana pria hujanku. Mengapa dia pergi? Pria hujanku kumohon kembali.
FIN
Go away
Ada benci yang mengakar
Karena cintaku telah terbakar
Atas sikapmu yang kasar
Atau karena rasa kasihku telah pudar
Mereka bilang cinta itu buta
Tapi bagiku itu buat orang merana
Aku hanya ingin mencinta
Pada siapa saja yang ku suka
Bukan karena aku ingin mengumbar rasa
Hanya saja aku menikmati segala yang tumbuh dibalik dada
Namun, rasa itu hanya sesaat
Kau orang asing dalam hatiku yang hanya tersesat
Kemudian berbalik arah mencari yang tepat
Dan berakhir dengan aku yang terkadang merasa sekarat
FIN
Karena cintaku telah terbakar
Atas sikapmu yang kasar
Atau karena rasa kasihku telah pudar
Mereka bilang cinta itu buta
Tapi bagiku itu buat orang merana
Aku hanya ingin mencinta
Pada siapa saja yang ku suka
Bukan karena aku ingin mengumbar rasa
Hanya saja aku menikmati segala yang tumbuh dibalik dada
Namun, rasa itu hanya sesaat
Kau orang asing dalam hatiku yang hanya tersesat
Kemudian berbalik arah mencari yang tepat
Dan berakhir dengan aku yang terkadang merasa sekarat
FIN
Friendzone: Sorry (Bag.2)
"Han, ayo pulang sekolah bersama!" ajak Yoon pada Shin Han---gadis yang menjadi teman baiknya selama ini.
Han bergeming, mata madu gadis itu menatap uluran tangan seorang Lee Yoon untuknya. "Tidak, aku bisa pulang sendiri. Kau pulang saja lebih dulu!"
Yoon menatap heran Han, "tapi ini sudah malam."
Han jengah. "Ku mohon..." lirihnya.
"Han..."
Han memandang wajah lelah Yoon, "jangan seperti ini! Setelah apa yang terjadi kemarin, jangan bersikap baik padaku."
"Han..."
"Itu sama saja kau menyakitiku dua kali lipat. Yoonie-ya, kau harus ingat, kita hanya teman, seperti yang kau katakan kemarin. Terima kasih telah memperjelas hubungan ini, itu artinya ketika mereka bertanya tentang hubungan kita..." Han menarik napas, menghilangkan sesak. "Aku akan menjawab jika kita hanya teman," Han tersenyum.
"Maaf..." Yoon hanya bisa mengatakan itu. Hatinya tersentuh, tapi tak berpikir untuk mengubah keadaan.
FIN
Han bergeming, mata madu gadis itu menatap uluran tangan seorang Lee Yoon untuknya. "Tidak, aku bisa pulang sendiri. Kau pulang saja lebih dulu!"
Yoon menatap heran Han, "tapi ini sudah malam."
Han jengah. "Ku mohon..." lirihnya.
"Han..."
Han memandang wajah lelah Yoon, "jangan seperti ini! Setelah apa yang terjadi kemarin, jangan bersikap baik padaku."
"Han..."
"Itu sama saja kau menyakitiku dua kali lipat. Yoonie-ya, kau harus ingat, kita hanya teman, seperti yang kau katakan kemarin. Terima kasih telah memperjelas hubungan ini, itu artinya ketika mereka bertanya tentang hubungan kita..." Han menarik napas, menghilangkan sesak. "Aku akan menjawab jika kita hanya teman," Han tersenyum.
"Maaf..." Yoon hanya bisa mengatakan itu. Hatinya tersentuh, tapi tak berpikir untuk mengubah keadaan.
FIN
Langganan:
Komentar (Atom)


