Minggu, 30 Juli 2017

[Review] HUJAN- Tere Liye



 HUJAN.
 TENTANG  PERSAHABATAN.
 TENTANG CINTA.
 TENTANG PERPISAHAN.
 TENTANG MELUPAKAN.
 DAN TENTANG HUJAN.

Awal bab novel ini diceritakan dengan latar yang menurut saya terkesan membosankan. Mengapa? Karena bab awal membawa kita pada bab akhir (yang tak terduga) yang awalnya membuat saya berkata “ah, kenapa ceritanya tidak menarik rasa penasaran saya seperti novel PULANG atau TENTANG KAMU?!! 

            Bab awal menceritakan tentang gadis bernama Lail yang tengah berada diruangan 4x4 m2, dengan tujuan untuk menghapus memori menyakitkan yang ia miliki. 

            “Apa yang hendak kamu lupakan Lail?” Elijah kembali bertanya, pertanyaan pertama.
            “Aku ingin melupakan hujan.” Hal-9
Itu adalah percakapan penutup pada bab 1 yang mulai menarik rasa ingin tahu saya. Apa yang ingin Lail lupakan tentang hujan? Mengapa hujan begitu menyakitkan sampai-sampai dia ingin melupakan hujan? Siapa yang membuat Lail membenci hujan? Bagaimana hujan yang selalu membuat orang bahagia justru membuat luka untuk Lail?  Pertanyaan-pertanyaan seperti itu seketika menggaum dibenak saya. 

            Ketika saya mencoba untuk terus melanjutkan cerita di bab 2, saya mulai menemukan rasa penasaran.
            Pagi itu, saat kapsul kereta yang ditumpangi Lail melaju cepat, salah satu gunung meletus. Itu bukan gunung biasa. Itu gunung purba. Seperti terukir dalam catatan sejarah, betapa dahsyatnya letusan gunung Krakatau atau Tambora. Tapi kali ini ledakan gunung purba itu lebih dahsyat dari pada kedua gunung itu-seratus kali lebih dahsyat. Sehebat apapun teknologi dimuka bumi, tidak ada yang bisa mencegah kejadian itu.
            Bencana alam yang sangat mematikan. Hal-18

            Loh kok? Ah ternyata begitu. Novel hujan menyuguhkan alur maju mundur menarik untuk diikuti.
Deskripsi tentang bagaimana Lail dan ibunya terjebak dan berlarian menyelamatkan diri dari reruntuhan pasca bencana alam bersama orang-orang dibawah gerbong kereta terasa seperti putaran adegan film dikepala saya. 

 Masa lalu Lail ketika bencana alam terjadi yang membuat Lail kehilangan orang tuanya. Membuat Lail bertemu dengan anak laki-laki yang bernama Esok.

            Lail selalu suka hujan, sejak kecil. Tapi hujan kali ini sangat menyakitkan. Hal-30
            Lail menjadi yatim-piatu sejak hari yang tidak akan pernah dilupakan seluruh dunia.hal-31

            Sejak kejadian itu, hubungan persahabatan mereka mulai tercipta.
            Ketika dipengungsian bencana, dimana ada Lail disana juga ada Esok. Esok selalu ada menemani Lail. Namun, pertemuan mereka kian renggang karena Esok yang diangkat oleh Bapak wali kota dan semakin renggang saat esok menjadi mahasiswa.

            Beberapa waktu berlalu, Lail melewati masa remajanya dengan baik. Dia menjadi relawan kesehatan bencana. Kemudian duduk dibangku kuliah keperawatan. Dan makna perawat yang dibangun Tere Liye didalam cerita lebih sederhana. Terutama ketika Lail dan Maryam sahabatnya menyeberangi kubangan lumpur menuju desa seberang hanya untuk mmperingatkan warga bahwa gunung akan meletus. Wah cerita dibagian itu sungguh terasa sangat heroic.

            Jika dalam drama korea mungkin bisa saya sebut genre novel ini adalah sci-fic bercampur romance. Ceritanya mengalir dengan sangat baik dan tidak terkesan dipaksakan. Dan membuat saya terus ingin lagi dan lagi untuk membacanya sampai habis.

            Inti cerita ini menurut saya tentang sahabat jadi cinta yang sudah menjadi cerita umum dimasyarakat dan nge-drama sekali. Tapi yang membuat cerita ini lebih menarik adalah latar settingnya. 

            Latar setting tahun 2040-an. Hujan membawa saya menemui kecanggihan teknologi yang mutakhir, yang belum ada saya temukan pada penulis lain untuk saat ini. Perlu waktu beberapa detik untuk saya mengimajinasikan mobil tanpa pengemudi sekaligus mobil terbang. Kartu pass hotel yang menjamin kenyamanan dan keselamatan tamunya. Dan benda sekecil jam tangan yang mampu melakukan banyak hal.

            Ketika kalian mengenali benda-benda berteknologi canggih tersebut satu persatu, maka kalian akan tahu siapa pemilik hak paten ribuan benda canggih tersebut adalah Soke Bahtera---ilmuan muda yang masih menjadi mahasiswa.

            Soke atau yang biasa dipanggil Lail dengan nama Esok. Anak laki-laki ini sungguh sesuatu. Anak laki-laki bernama Esok selalu membuat perasaan Lail tidak karuan. Bukan hanya Lail saya sendiri pun ikut tak karuan.
            Dan dalam kisah mereka berdua, di tengah teknologi komunikasi menakjuban saat itu, hanya tiga kali mereka bercakap lewat telepon. Satu untuk malam itu; yang kedua, setahun kemudian, saat Esok menyelesaikan kuliahnya; dan yang terakhir, di penghujung kisah ini. Tiga-tiganya Esok yang menelepon, karena serindu apa pun Lail, dia teteap tidak berani melakukannya. Sesuatu yang tidak pernah bisa dimengerti Maryam, yang bertahun-tahun menjadi teman sekamar Lail.” Hal-213

            Hujan. Bukan semata-mata hanya tentang hujan---rintik air yang jatuh dari langit. Tetapi lebih dari itu maknanya.
            Dalam novel ini, saya menemukan banyak hal yang berkesan. Tentang menerima segala sesuatu yang telah hilang pada hidup kita. Tentang persahabatan yang tulus dan saling membantu. Tentang perpisahan dan melewati waktu agar tidak merasa sedih ketika melalui penantian panjang
Novel ini sangat saya recomendasikan untuk kalian yang suka membaca. Novel yang tidak membosankan dan sarat makna. Novel ini dikemas dengan kata, kalimat, dan paragraph yang ringan, alur maju mundur, dan latar setting yang luar biasa. Ketika membacanya kalian akan selalu tersenyum tanpa sadar. Dan senyum kalian akan lebih lebar lagi saat selesai membaca semua bab pada novel HUJAN. Ah, saya sangat mencintai ending dari novel ini. 
 
               Bdw, ngomongin novel hujan dan segala isi ceritanya membuat saya berpikir dan berkeinginan jika suatu hari novel hujan bisa diangkat menjadi sebuah film di Indonesia. Dan jika itu terjadi, mungkin saya adalah salah satu orang yang paling berbahagia dengan filim itu. Hopeless

Berikut beberapa quotes yang saya ambil dari novel hujan

“Jangan pernah jatuh cinta saat hujan, Lail. Karena ketika besok lusa kamu patah hati, setiap kali hujan turun, kamu akan terkenang dengan kejadian menyakitkan itu. Masuk akal, bukan?” hal-200

“Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia dating, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita bisa menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu hingga selesai dengan sendirinya?” hal-201

“Kamu tahu, Lail, ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta adalah merasa bahagia dan sakit pada waktu bersamaan. Merasa yakin dan ragu dalam satu hela napas. Merasa senang sekaligus cemas menunggu hari esok. Tak pelak lagi, kamu sedang jatuh cinta jika mengalaminya…” hal-205

“Ada orang-orang yang kemungkinan sebaiknya cukup menetap dalam hati kita saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita. Maka, biarlah begitu adanya, biar menetap di hati, diterima dengan lapang. Toh dunia ini selalu ada misteri yang tidak bisa dijelaskan. Menerimanya dengan baik justru membawa kedamaian.” Hal-255

“Bagian terbaik dari jatuh cinta adalam perasaan itu sendiri. Kamu pernah merasakan rasa sukanya, sesuatu yang sulit dilukiskan kuas sang pelukis, sulit disulam menjadi puisi oleh pujangga, tidak bisa dijelaskan oleh mesin paling canggih sekalipun. Bagian terbaik dari jatuh cinta bukan tentang memiliki. Jadi, kenapa kamu sakit hati setelahnya? Kecewa? Marah? Benci? Cemburu? Jangan-jangan karena kamu tidak pernah paham betapa indahnya jatuh cinta.”hal-256

“Ratusan orang pernah berada diruangan ini. Meminta agar semua kenangan mereka dihapus. Tetapi sesungguhnya, bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barang siapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan.” Hal-307

“Kamu tidak boleh melupakanku, Lail. Aku mohon… Bagaimana aku akan menghabiskan sisa waktu bumi jika kamu melupakanku? Kamu satu-satunya yang paling berharga dalam hidupku.”hal-314

‘Bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan,”hal-318 END

Minggu, 16 Juli 2017

Bahasa Ibu Sebagai Kunci Pengembangan Mental Tools (Cr: anonymous)



"That you may be strong be a craftman in speech for the strength of one is the tounge and the speech of one is mightier than all fightings”
~Ptahhotep (written 5.000 years ago)

Artikel ini saya tulis untuk memberikan bahan pemikiran pada para orangtua dan pendidik mengenai pentingnya bahasa untuk perkembangan anak. Sebagai sesama orangtua dan juga seorang pendidik sudah tentu kita ingin memberikan yang terbaik bagi putra-putri kita. Kita ingin memberikan bekal yang bisa digunakan anak, kelak, dalam mengarungi samudera kehidupan. Kita semua ingin anak kita sukses. Kita semua, mengutip apa yang ditulis oleh sahabat saya Joseph Landri, bermimpi suatu saat nanti anak kita akan menjadi naga.

Orangtua memahami pentingnya pendidikan sebagai fondasi sukses. Namun sayangnya kebanyakan orangtua kurang kritis dan hanya mengikuti trend yang sedang “in”. Salah satunya adalah mengenai bahasa.

Dulu, waktu komputer baru menjadi trend, setiap orangtua yang ingin menyekolahkan anaknya pasti akan bertanya kepada pihak sekolah, ”Di sini ada komputer, nggak?”. Mengapa orangtua mengajukan pertanyaan ini? Karena mind-set mereka saat itu adalah kalau anak menguasai ilmu komputer maka anak akan sukses. Benarkah demikian?

Saat ini yang lagi ”in” adalah bahasa. Pertanyaan yang selalu diajukan oleh kebanyakan orangtua adalah, ”Di sini bahasa pengantarnya apa? Pake Inggris, Mandarin, atau hanya bahasa Indonesia?”

Nah, sama dengan komputer, mengapa orangtua mengajukan pertanyaan ini? Jawabannya juga sama. Karena mereka berpikir bila anak mampu menguasai bahasa asing, Inggris,  atau bahasa Aseng, Mandarin, maka anak pasti sukses di hidupnya kelak. Sekali lagi, benarkah demikian?

Orangtua dan pendidik mempunyai tujuan yang baik dan mulia. Namun sayangnya mereka tidak menyadari bahwa persepsi mereka mengenai sukses didasari oleh asumsi yang salah. Asumsi adalah sesuatu yang diyakini sebagai hal yang benar tanpa didukung oleh data-data yang valid. Asumsi yang salah selanjutnya mempengaruhi persespsi. Persepsi ini kemudian menjadi koridor berpikir yang menentukan arah dan hasil proses pikir mereka.

Nah, kembali ke masalah bahasa. Sebagai orangtua, pendidik, pembicara publik, penulis buku, dosen psikologi, dan juga seorang terapis saya banyak menemukan kasus anak yang ”hang” karena harus memenuhi ambisi dan tuntutan orangtua. Banyak orangtua yang bangga bila anak mereka sejak usia belia telah bisa cas cis cus (baca:berbicara) minimal bahasa Inggris atau kalau bisa sekalian Mandarin.

Ada kawan yang anaknya baru berusia 4 tahun 3 bulan telah dicap sebagai anak bodoh karena, setelah dikursuskan, masih mengalami kesulitan menulis dalam bahasa Mandarin.

Ada klien yang saat di PG/TK disekolahkan di sekolah yang bahasa pengantarnya Inggris dan Mandarin. Namun saat masuk SD si anak, karena orangtuanya tidak mampu menyekolahkan di sekolah internasional atau yang bi-lingual karena mahal, masuk ke sekolah biasa dengan bahasa pengantar bahasa Indonesia. Anak ini mengalami kesulitan belajar yang luar biasa dan akhirnya mengalami trauma yang cukup berat. Selidik punya selidik ternyata anak ini cukup cerdas. Masalahnya adalah di bahasa. Jelas tidak mungkin kita bisa mempelajari sesuatu dengan bahasa yang kita tidak kuasai. Dalam hal ini anak mengalami double-trauma. Pertama, anak trauma dengan bahasa dan yang kedua adalah dengan materi pelajaran.

Ada lagi anak yang  ”down” setelah di kelas tiga SD. Alasannya sama. Anak mengalami kesulitan menguasai bahasa Inggris atau Mandarin yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran.

Semua ini terjadi karena orangtua, karena ambisi yang didasari oleh asumsi yang salah, tidak bisa membantu anaknya di rumah. Di sekolah anak harus belajar dengan bahasa Inggris atau Mandarin. Sedangkan di rumah anak berkomunikasi dengan bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Ditambah lagi orangtua juga nggak bisa bahasa Inggris atau Mandarin. Akibatnya sangat fatal bagi perkembangan anak. Dalam hal ini perkembangan kecerdasan linguistik anak menjadi terhambat dan ini mempengaruhi aspek kehidupan lainnya. 

Pernah ada orangtua, yang anaknya saat itu di SD kelas 3 bermasalah akibat dipindahkan dari sekolah biasa ke sekolah dengan pengantar bahasa Inggris, saat konsultasi dengan kami, berkata pada anaknya, saat itu si anak bersin, ”Clean your nose. Jhu jhi. Ambil tisue cepat”.

Hebat kan orangtua ini. Dalam satu kalimat ia menggunakan tiga bahasa sekaligus. ”Clean your nose” artinya bersihkan hidungmu (ini bahasa Inggris). ”Jhu jhi” artinya keluar (ini Mandarin), dan “Ambil tisue cepat” (bahasa Indonesia).

Tolong jangan salah mengerti. Saya tidak anti pendidikan dengan bahasa pengantar bahasa Inggris atau Mandarin. Yang saya ingin sampaikan adalah sebagai orangtua dan pendidik, kita harus hati-hati dan tidak hanya ikut trend. Kita harus mendasari tindakan kita dengan alasan dan pengetahuan yang benar.

Ada banyak kawan saya yang anaknya sekolah di sekolah bi-lingual dan anak mereka berkembang sangat baik. Kawan saya ini ternyata menguasai bahasa asing dengan sangat baik. Dengan demikian mereka mampu membantu anak berkembang dengan optimal.

Pertanyaannya sekarang, ”Kapan waktunya mengajari anak bahasa asing? Bukankah waktu anak kecil otak mereka mampu belajar banyak hal termasuk bahasa? Kalau tidak diajarkan banyak bahasa nanti apa nggak terlambat?”

Saya ingin meluruskan satu hal. Kita boleh menstimulasi anak dengan bahasa apa saja. Namun jangan memaksa mengajar anak banyak bahasa. Lha, apa bedanya? Mengajar mengandung konsekuensi harus bisa. Sedangkan menstimulasi adalah memberikan pengalaman belajar sebanyak-banyaknya, anak tidak harus bisa.

Kesulitan belajar bahasa timbul sebagai akibat proses belajar bahasa yang salah. Cara belajar yang benar adalah kita belajar bicara dulu. Baru setelah itu kita belajar tulis dan baca. Jadi, dari lisan ke tulisan. Jangan dibalik. Coba perhatikan anak kita saat belajar bahasa ibunya. Anak, saat masuk PG/TK, telah mampu berkomunikasi dengan baik. Saat di sekolah barulah anak belajar membaca dan menulis. Proses ini bisa berjalan mulus karena anak telah menguasai bahasa lisan.

Terlepas dari apa bahasa yang akan kita ajarkan kepada anak, satu yang harus benar-benar orangtua perhatikan adalah anak membutuhkan fondasi untuk menguasai bahasa lainnya, entah itu bahasa asing atau bahasa Aseng. Fondasi ini adalah bahasa ibu yaitu bahasa Indonesia. Mengapa bahasa Indonesia? Ya, karena kita tinggal di Indonesia. Ini bukan masalah nasionalisme namun ini kita bicara proses tumbuh kembang anak.

Pater Drost, di salah satu tulisannya, pernah bercerita bahwa anak sekolah di Belanda, selama 6 tahun di sekolah dasar hanya diajarkan satu bahasa yaitu bahasa Belanda. Tidak diajarkan bahasa lain. Namun begitu anak-anak itu naik ke SMP dan SMA langsung diajarkan banyak bahasa asing. Hasilnya? Mereka mampu menguasai dengan baik bahasa Inggris, Jerman, dan Perancis. Kok bisa? Ya karena fondasinya kuat. Anak-anak itu menguasai bahasa ibu mereka, bahasa Belanda, dengan sangat baik.

Lalu, apa hubungan antara apa yang telah saya uraikan panjang lebar dengan judul artikel ini? Sangat erat. Sekarang saya akan membahasnya secara lebih teknis.

Tool atau piranti adalah sesuatu yang membantu kita dalam memecahkan suatu masalah, sebuah instrumen yang membantu kita melakukan suatu tindakan. Selain mengembangkan piranti untuk membantu dan memudahkan kerja, kita juga mencipta dan mengembangkan mental tools/piranti mental, atau piranti pikir, untuk mengembangkan kemampuan mental kita. Mental tools ini membantu kita untuk bisa memperhatikan, mengingat, dan berpikir lebih baik.

Ide mengenai piranti pikir atau mental tools dikembangkan oleh Lev Vygotsky, psikolog Rusia (1896-1934), yang menjelaskan bagaimana anak mengembangkan kemampuan mental yang semakin kompleks.

Para penerus Vygotsky percaya bahwa mental tools memainkan peran yang sangat penting dalam pengembangkan kemampuan berpikir. Seiring dengan proses tumbuh kembangnya, anak secara aktif menggunakan piranti yang telah mereka ciptakan dan kembangkan serta mengembangkan piranti baru sesuai kebutuhan mereka.

Kekurangan atau ketiadaan mental tools membawa akibat jangka panjang negatif terhadap pembelajaran karena mental tools mempengaruhi tingkat berpikir abstrak yang dapat dicapai seorang anak.

Mental tools bermanfaat untuk mempelajari dan memahami konsep abstrak di bidang sains dan matemaika. Tanpa mental tools anak dapat menghafal dan mengeluarkan fakta-fakta saintifik dari memori mereka namun tidak bisa menerapkan pengetahuan ini untuk mencari solusi dari pertanyaan/masalah yang mereka hadapi, yang sedikit berbeda dengan contoh yang telah mereka pelajari sebelumnya.

Kemampuan berpikir abstrak dibutuhkan tidak hanya di sekolah namun juga dalam mengambil berbagai keputusan dalam banyak aspek kehidupan saat dewasa kelak, misalnya bagaimana membeli mobil, memilih investasi keuangan, berpikir level tinggi (analisa, sintesa,dan evaluasi), termasuk juga membesarkan dan mendidik anak yang sudah tentu membutuhkan kematangan dalam kecakapan berpikir.

Bahasa adalah mekanisme untuk berpikir, suatu mental tool. Bahasa membuat berpikir menjadi lebih abstrak, fleksibel, dan independen. Bahasa memungkinkan anak untuk membayangkan, memanipulasi, mencipta ide-ide baru, dan berbagi ide dengan orang lain. Dengan demikian bahasa mempunyai dua fungsi utama; bahasa penting untuk mengembangkan kemampuan pikir dan bahasa juga merupakan bagian dari proses pikir.

Bahasa dapat digunakan untuk mencipta berbagai strategi untuk menguasai banyak fungsi mental seperti atensi, memori, perasaan, dan pemecahan masalah.

Salah satu kekuatan pendekatan Vygotsky adalah ia tidak hanya berbicara pada tataran teori namun juga praktik. Apa yang ia formulasikan telah dicobakan dalam mengajar mental tools pada anak-anak. Sebagai pembanding terhadap pendekatan Vygotsky pembaca bisa mempelajari pemikiran Piaget (constructivism), Watson dan Skinner (behaviorism), Freud (psychoanalysis), Koffka (Gestalt psychology), dan Montessori.

Terdapat empat prinsip yang mendasari pendekatan Vygotsky yaitu:
- Anak mengkonstruk pengetahuan
- Pengembangan diri anak tidak bisa dipisahkan dari konteks sosial
- Pembelajaran dapat membantu pengembangan diri
- Bahasa memainkan peran vital dalam pengembangan mental

Bila kita cermati maka keempat prinsip di atas semua menggunakan bahasa sebagai medianya. Tidak mungkin tanpa bahasa. Oleh sebab itu penguasaan bahasa, khususnya bahasa ibu, dengan baik mutlak dibutuhkan agar anak mampu berkembang secara optimal.

Bila kita tarik benang merahnya ke kehidupan dewasa, khususnya dalam aspek finansial, maka satu pertanyaan menarik dari Kevin Hogan layak kita simak, ”What is the difference between the top 20% of people who earn 80% of the money and the 80% of the people who earn 20% of the money?”

Jawabannya adalah:
- 20% orang itu adalah pakar di bidang komunikasi. Mereka tahu bagaimana mengajukan pertanyaan dan menemukan kebutuhan dan keinginan orang lain.
- Orang sukses adalah pakar di dua bidang. Pertama, di bidang pekerjaan mereka yang mereka komunikasikan dengan sangat baik dengan orang lain. Kedua, komunikasi pada level pikiran bawah sadar.

Sekali lagi, ini semua melibatkan kemampuan bahasa yang tinggi.

Sebagai penutup artikel ini saya ingin memberikan pertanyaan bagi anda, untuk menguji kemampuan bahasa Indonesia anda. Bisakah anda rasakan apa bedanya pernyataan ini, ”Saya bertanggung jawab kepada anda namun saya tidak bertanggung jawab untuk anda”.

Pembaca, semoga apa yang telah saya uraikan bisa bermanfaat bagi anda. Saya bertanggung jawab kepada anda namun saya tidak bertanggung jawab untuk anda.


Notes: Ini bukan artikel saya. Namun saya memiliki niat untuk berbagi dengan pembaca sekalian. Akan tetapi saya tidak mengetahui siapa penulis artikel ini. Maka dari itu saya menyarankan agar tidak melakukan copy paste artikel dari blog ini. Sekian~