HUJAN.
TENTANG PERSAHABATAN.
TENTANG CINTA.
TENTANG
PERPISAHAN.
TENTANG MELUPAKAN.
DAN TENTANG HUJAN.
Awal bab novel ini
diceritakan dengan latar yang menurut saya terkesan membosankan. Mengapa?
Karena bab awal membawa kita pada bab akhir (yang tak terduga) yang awalnya
membuat saya berkata “ah, kenapa ceritanya tidak menarik rasa penasaran saya
seperti novel PULANG atau TENTANG KAMU?!!
Bab
awal menceritakan tentang gadis bernama Lail yang tengah berada diruangan 4x4 m2,
dengan tujuan untuk menghapus memori menyakitkan yang ia miliki.
“Apa yang hendak kamu lupakan Lail?” Elijah
kembali bertanya, pertanyaan pertama.
“Aku ingin melupakan hujan.” Hal-9
Itu adalah percakapan
penutup pada bab 1 yang mulai menarik rasa ingin tahu saya. Apa yang ingin Lail lupakan tentang hujan? Mengapa hujan begitu
menyakitkan sampai-sampai dia ingin melupakan hujan? Siapa yang membuat Lail
membenci hujan? Bagaimana hujan yang selalu membuat orang bahagia justru
membuat luka untuk Lail? Pertanyaan-pertanyaan
seperti itu seketika menggaum dibenak saya.
Ketika
saya mencoba untuk terus melanjutkan cerita di bab 2, saya mulai menemukan rasa
penasaran.
Pagi itu, saat kapsul kereta yang ditumpangi
Lail melaju cepat, salah satu gunung meletus. Itu bukan gunung biasa. Itu gunung
purba. Seperti terukir dalam catatan sejarah, betapa dahsyatnya letusan gunung
Krakatau atau Tambora. Tapi kali ini ledakan gunung purba itu lebih dahsyat
dari pada kedua gunung itu-seratus kali lebih dahsyat. Sehebat apapun teknologi
dimuka bumi, tidak ada yang bisa mencegah kejadian itu.
Bencana alam yang sangat mematikan.
Hal-18
Loh
kok? Ah ternyata begitu. Novel hujan menyuguhkan alur maju mundur menarik untuk
diikuti.
Deskripsi tentang
bagaimana Lail dan ibunya terjebak dan berlarian menyelamatkan diri dari
reruntuhan pasca bencana alam bersama orang-orang dibawah gerbong kereta terasa
seperti putaran adegan film dikepala saya.
Masa lalu Lail ketika bencana alam terjadi
yang membuat Lail kehilangan orang tuanya. Membuat Lail bertemu dengan anak
laki-laki yang bernama Esok.
Lail selalu suka hujan, sejak kecil. Tapi
hujan kali ini sangat menyakitkan. Hal-30
Lail menjadi yatim-piatu sejak hari yang
tidak akan pernah dilupakan seluruh dunia.hal-31
Sejak
kejadian itu, hubungan persahabatan mereka mulai tercipta.
Ketika
dipengungsian bencana, dimana ada Lail disana juga ada Esok. Esok selalu ada
menemani Lail. Namun, pertemuan mereka kian renggang karena Esok yang diangkat
oleh Bapak wali kota dan semakin renggang saat esok menjadi mahasiswa.
Beberapa
waktu berlalu, Lail melewati masa remajanya dengan baik. Dia menjadi relawan
kesehatan bencana. Kemudian duduk dibangku kuliah keperawatan. Dan makna
perawat yang dibangun Tere Liye didalam cerita lebih sederhana. Terutama ketika
Lail dan Maryam sahabatnya menyeberangi kubangan lumpur menuju desa seberang
hanya untuk mmperingatkan warga bahwa gunung akan meletus. Wah cerita dibagian
itu sungguh terasa sangat heroic.
Jika
dalam drama korea mungkin bisa saya sebut genre novel ini adalah sci-fic bercampur
romance. Ceritanya mengalir dengan sangat baik dan tidak terkesan dipaksakan.
Dan membuat saya terus ingin lagi dan lagi untuk membacanya sampai habis.
Inti
cerita ini menurut saya tentang sahabat jadi cinta yang sudah menjadi cerita
umum dimasyarakat dan nge-drama sekali. Tapi yang membuat cerita ini lebih
menarik adalah latar settingnya.
Latar
setting tahun 2040-an. Hujan membawa saya menemui kecanggihan teknologi yang
mutakhir, yang belum ada saya temukan pada penulis lain untuk saat ini. Perlu waktu
beberapa detik untuk saya mengimajinasikan mobil tanpa pengemudi sekaligus
mobil terbang. Kartu pass hotel yang menjamin kenyamanan dan keselamatan
tamunya. Dan benda sekecil jam tangan yang mampu melakukan banyak hal.
Ketika
kalian mengenali benda-benda berteknologi canggih tersebut satu persatu, maka
kalian akan tahu siapa pemilik hak paten ribuan benda canggih tersebut adalah
Soke Bahtera---ilmuan muda yang masih menjadi mahasiswa.
Soke
atau yang biasa dipanggil Lail dengan nama Esok. Anak laki-laki ini sungguh
sesuatu. Anak laki-laki bernama Esok selalu membuat perasaan Lail tidak karuan.
Bukan hanya Lail saya sendiri pun ikut tak karuan.
“Dan dalam kisah mereka berdua, di tengah
teknologi komunikasi menakjuban saat itu, hanya tiga kali mereka bercakap lewat
telepon. Satu untuk malam itu; yang kedua, setahun kemudian, saat Esok
menyelesaikan kuliahnya; dan yang terakhir, di penghujung kisah ini.
Tiga-tiganya Esok yang menelepon, karena serindu apa pun Lail, dia teteap tidak
berani melakukannya. Sesuatu yang tidak pernah bisa dimengerti Maryam, yang
bertahun-tahun menjadi teman sekamar Lail.” Hal-213
Hujan.
Bukan semata-mata hanya tentang hujan---rintik air yang jatuh dari langit.
Tetapi lebih dari itu maknanya.
Dalam
novel ini, saya menemukan banyak hal yang berkesan. Tentang menerima segala
sesuatu yang telah hilang pada hidup kita. Tentang persahabatan yang tulus dan
saling membantu. Tentang perpisahan dan melewati waktu agar tidak merasa sedih
ketika melalui penantian panjang
Novel ini sangat saya recomendasikan untuk kalian
yang suka membaca. Novel yang tidak membosankan dan sarat makna. Novel ini
dikemas dengan kata, kalimat, dan paragraph yang ringan, alur maju mundur, dan
latar setting yang luar biasa. Ketika membacanya kalian akan selalu tersenyum
tanpa sadar. Dan senyum kalian akan lebih lebar lagi saat selesai membaca semua
bab pada novel HUJAN. Ah, saya sangat mencintai ending dari novel ini.
Bdw, ngomongin novel hujan dan segala isi ceritanya
membuat saya berpikir dan berkeinginan jika suatu hari novel hujan bisa
diangkat menjadi sebuah film di Indonesia. Dan jika itu terjadi, mungkin saya
adalah salah satu orang yang paling berbahagia dengan filim itu. Hopeless
Berikut beberapa quotes yang saya ambil dari novel
hujan
“Jangan
pernah jatuh cinta saat hujan, Lail. Karena ketika besok lusa kamu patah hati,
setiap kali hujan turun, kamu akan terkenang dengan kejadian menyakitkan itu.
Masuk akal, bukan?” hal-200
“Karena
kenangan sama seperti hujan. Ketika dia dating, kita tidak bisa menghentikannya.
Bagaimana kita bisa menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa
ditunggu hingga selesai dengan sendirinya?” hal-201
“Kamu
tahu, Lail, ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta adalah merasa bahagia dan
sakit pada waktu bersamaan. Merasa yakin dan ragu dalam satu hela napas. Merasa
senang sekaligus cemas menunggu hari esok. Tak pelak lagi, kamu sedang jatuh
cinta jika mengalaminya…” hal-205
“Ada
orang-orang yang kemungkinan sebaiknya cukup menetap dalam hati kita saja, tapi
tidak bisa tinggal dalam hidup kita. Maka, biarlah begitu adanya, biar menetap
di hati, diterima dengan lapang. Toh dunia ini selalu ada misteri yang tidak
bisa dijelaskan. Menerimanya dengan baik justru membawa kedamaian.” Hal-255
“Bagian
terbaik dari jatuh cinta adalam perasaan itu sendiri. Kamu pernah merasakan
rasa sukanya, sesuatu yang sulit dilukiskan kuas sang pelukis, sulit disulam
menjadi puisi oleh pujangga, tidak bisa dijelaskan oleh mesin paling canggih
sekalipun. Bagian terbaik dari jatuh cinta bukan tentang memiliki. Jadi, kenapa
kamu sakit hati setelahnya? Kecewa? Marah? Benci? Cemburu? Jangan-jangan karena
kamu tidak pernah paham betapa indahnya jatuh cinta.”hal-256
“Ratusan
orang pernah berada diruangan ini. Meminta agar semua kenangan mereka dihapus. Tetapi
sesungguhnya, bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barang siapa
yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan. Tapi jika dia tidak bisa
menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan.” Hal-307
“Kamu
tidak boleh melupakanku, Lail. Aku mohon… Bagaimana aku akan menghabiskan sisa
waktu bumi jika kamu melupakanku? Kamu satu-satunya yang paling berharga dalam
hidupku.”hal-314
‘Bukan
melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima,
maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima,
dia tidak akan pernah bisa melupakan,”hal-318 END

